Pengikut

Kamis, 12 April 2012

Sejatah Pendidikan Islam



PENDIDIKAN MASA DAULAH ABBASIYAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Individu
Mata Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dr. Muqowim., M.Ag














Di Susun Oleh :
Yogie Enjang Gumilar
09410041
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Sebagaimana yang telah kita ketahui, perkembangan ilmu pengetahuan dizaman kontemporer sekarang ini tidaklah berlangsung secara instan, melainkan terjadi secara bertahap (evolutif). Untuk memahami sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, kita harus melakukan penyelarasan-penyelarasan atau klarifikasi secara bertahap. Dikarenakan dari setiap zaman atau abad itu kita bisa menampilkan ciri keunikan tertentu bahkan penemuan-penemuan yang inovatif dan bervariatif dalam keterkaitan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu yang lain di zamannya.
Penulis dengan ini berusaha melukiskan sedikit keterkaitan antara pendidikan yang ada pada zaman Daulah Bani Abbasiyah dan pendidikan yang terbentuk dalam dunia akademika kita sekarang ini dengan merujuk pada kenyataan di masa itu. Yang telah melahirkan para tokoh-tokoh penyumbang banyak hal dalam ilmu pengetahuan khususnya dalam dunia pendidikan dewasa ini.
Penulis dalam mengkaji makalah ini sangat menekankan kepada semua mahasiswa tanpa terkecuali diri penulis sendiri, bahwasannya sistem pendidikan dimasa lampau penting untuk ditelaah lagi guna mengevaluasi problem-problem yang ada dalam dunia pendidikan sekarang ini. Artinya, meski didalam literatur pendidikan selalu dapat berjalan dengan berlandaskan filosofis, tidak menutup kemungkinan bila landasan-landasan itu selalu valid dan tepat dengan situasi pendidikan zaman dulu (skolasik) dalam tujuan yang hendak dicapai.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana awal berdirinya Daulah Abbasiyah ?
2.      Bagaimana sistem pendidikan masa Daulah Abbasiyah ?
3.      Bagaimana kurikulum masa Daulah Abbasiyah ?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Awal Berdirinya Daulah Abbasiyah
Daulah Abbasiyah merupakan salah satu kekuatan penting masa itu, daulah ini dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasanya merupakan keturunan dari Abbas bin Abdul Muthalib, paman nabi Muhammad SAW. Daulah Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Lahir di Humaimah pada tahun 104 H dan dilantik menjadi seorang Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan Daulah Abbasiyah berlangsung dari tahun 750 M - 1258 M.[1]
Sebelum Daulah Abbasiyah berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan kelompok Bani Abbas, antara satu dengan yang lain mempunyai kedudukan tersendiri dalam memainkan peranannya untuk menegakkan kekuasaan keluarga besar paman nabi SAW yaitu Abbas bin Abdul Mutholib. Tiga tempat itu adalah Humaimah, Kufah dan Khurasan. Humaimah merupakan kota kecil tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas. Humaimah terletak berdekatan dengan Damsyik. Kufah merupakan kota yang penduduknya menganut aliran Syi‘ah pendukung Ali bin Abi Tholib yang bermusuhan secara terang-terangan dengan golongan Bani Umayyah. Demikian pula dengan Khurasan, kota yang penduduknya mendukung Bani Hasyim yang mempunyai warga bertemperamen pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh pendirian tidak mudah terpengaruh nafsu, dan tidak mudah bingung dengan kepercayaan yang menyimpang. Disinilah diharapkan dakwah kaum Abbassiyah mendapatkan dukungan.
Selama Imam Muhammad bin Ali masih hidup gerakan pelawanan dilakukan dengan sangat rahasia dan hati-hati. Propaganda dikirim keseluruh pelosok negara, dan mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan yang merasa tertindas, bahkan juga dari golongan yang pada mulanya mendukung Bani Umayyah. Setelah Muhammad bin Ali meninggal dan diganti oleh anaknya Ibrahim bin Muhammad, maka seorang pemuda Persia yang gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim al-Khusarany, bergabung dalam gerakan rahasia ini. Semenjak itu dimulailah gerakan perlawanan dengan cara terang-terangan.
Puncak dari gerakan perlawanan itu bermuara pada pemberontakan menyeluruh diseluruh negeri yang terjadi di abad ke-tujuh. Pemberontakan yang paling dahsyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir dari Daulah Umayyah. Yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Abbul Abbas, ditandai dengan jatuhnya negeri Syiria dan terbunuhnya Marwan bin Muhammad pada bulan Zulhijjah 132 H di desa Busir, kota Fusthat, Mesir.[2] Maka berakhirlah riwayat Daulah Bani Umayyah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya Daulah Abbasiyah bukan saja menandakan pergantian kekuasaan akan tetapi lebih dari itu adalah pergantian struktur sosial dan ideologi.

B.     Model Pendidikan Masa Daulah Abbasiyah
Daulah Abbasiyah merupakan salah satu Daulah yang benar-benar membawa perubahan yang sangat besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan, pada masa ini kejayaan islam benar-benar menjadi yang terkemuka dan mencapai zaman keemasannya.[3]  Hal ini disebabkan karena umat islam pada masa ini banyak melakukan kajian kritis terhadap ilmu pengetahuan dan memunculkan banyak ilmuan dan cendikiawan.
Khalifah Daulah Abbasiyah yang benar-benar berjasa besar akan kemajuan daulah ini adalah Khalifah Harun Al-Rasyid yang memimpin dari tahun 786 M – 809 M, menjadi pelopor pembangunan negara dengan memanfaatkan kekayaannya untuk membangun keperluan social, rumah sakit, famasi, dan lembaga pendidikan, pada masanya jumlah dokter terdapat paling tidak 800 orang. Kepemimpinan Khalifah Harun Al-Rasyid yang fenomenal tersebut, dilanjutkan oleh puteranya Al-Ma’mun yang memimpin dari tahun 813 M – 813 M dan dikenal sebagai khalifah yang cinta akan ilmu pengetahuan. Pada masa ini khalifah mengeluarkan kebijakan untuk mulai menerjemahkan buku-buku asing dari Yunani, sekaligus khalifah merekrut penerjemah-penerjemah ahli dari golongan Kristen dan golongan ahli lainnya. Selain itu khalifah juga menggagas pembangunan pusat penerjemahan yang diberi nama Bait Al-Hikmah yang berfungsi juga sebagai perguruan tinggi, yang dilengkapi dengan perpustakaan umum yang diberi nama Darul-Ilmi.[4]
Masa Daulah Abbasiyah, kebudayaan dan perkembangan ilmu pengetahuan benar-benar berkembang dengan pesatnya, semua ini didukung oleh kebijakan khalifah membangun sarana pendidikan yang begitu komplet dan beragam seperti :
1.    Madrasah. Madrasah yang terkenal pada masa itu adalah Madrasah An-Nidzamiyah, didirikan oleh perdana menteri Nidzamul Muluk. Madrasah ini tersebar luas di kota Baghdad, Balkan, Muro, Tabiristan, Naisabur, dan lain-lain.
2.    Kuttab, merupakan tempat belajar bagi para siswa sekolah dasar dan menengah.
3.    Majelis Munadharah, merupakan tempat pertemuan para pujangga, ilmuan, ulama, cendikiawan dan filosof dalam menyeminarkan dan mengkaji ilmu yang mereka geluti.
4.    Darul Hikmah, gedung perpustakaan pusat.[5]
Selain tempat-tempat tersebut, masih ada lagi tempat pendidikan lain yang berkembang masa itu seperti :
1.    Suffah, suatu tempat yang dipakai untuk aktifitas pendidikan yang menyediakan pemondokan bagi pendatang baru yang tergolong miskin, untuk diajari membaca dan menghafal Al-Qur’an secara benar, dasar-dasar menghitung, kedokteran, astronomi, ilmu filsafat, dan hukum islam.
2.    Kuttab, lembaga pendidikan pengetahuan umum dan filsafat.
3.    Halaqah, kegiatan di halaqah ini tidak hanya mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama saja, tapi juga ilmu pengetahuan umum.
4.    Majelis, merupakan sesi dimana aktifitas belajar mengajar berlangsung.
5.    Masjid, selain sebagai tempat ibadah, masjid juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
6.    Toko Buku, selain menjual buku-buku, tempat ini juga menjadi sarana untuk diskusi dan debat, bahkan pertemuan rutin sering dilakukan disini.
7.    Rumah Sakit, selain berfungsi merawat dan mengobati orang sakit, juga mendidik tenaga-tenaga perawat dan tempat praktikum kedokteran.[6]









C.  Kurikulum yang Berkembang
Pada masa Daulah Abbasiyah, Kurikulum yang digalakkan pada masa itu adalah :
1.    Kurikulum pendidikan rendah, anak-anak diberi pengajaran Al-Qur’an, pidato, sejarah, ilmu perang, cara bergaul dengan masyarakat, syair, dan bahasa. Sebenarnya kurikulum pada tingkat ini bervariasi tergantung pada tingkat kebutuhan masyarakat.
2.    Kurikulum pendidikan tinggi, pada tingkat ini mahasiswa tidak terikat untuk mempelajari mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk mengikuti mata pelajaran tertentu. Mata pelajaran pada tingkat ini meliputi, ilmu fiqh, nahwu, kalam, kitabah, al-arudlh, matematika, astronomi, aritmatika, geometri, psikologi, kesusteraan, kedokteran, dan lain-lain.[7]













BAB III
PENUTUP

Kejayaan islam mengalami puncak keemasannya adalah pada masa Daulah Abbasiyah, ditandai dengan berbagai kemajuan yang mencakup berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, ekonomi, politik, dan system pemerintahannya.
Dalam bidang pendidikan, banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan yang memunculkan disiplin-disiplin  ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum, serta tokoh-tokoh ilmu pengetahuan dan filsafat yang termasyhur karena karya-karyanya seperti, Ibnu Sina, Al-Farabi, Ar-Razi, dan masih banyak yang lainnya.
Semua itu terwujud karena kebijakan yang diambil dan digalakkan oleh khalifah yang berkuasa saat itu, benar-benar sesuai dengan kebutuhan dari warga masyarakatnya pada khususnya, dan kebutuhan masyarakat global pada umumnya.















Daftar Pustaka

Yatim, Badri, 2002. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,.
As’ad, Mahrus, 1994. Sejarah Kebudayaan Islam. Bandung: CV Amirco.
Abdurrahman, Dudung, dkk, 2002. Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: Jurusan SPI Fak. Adab UIN Sunan Kalijaga dan LESFI.
Nata, Abuddin, 2004. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafika Persada.
Tafsir, Ahmad, 2000. Ilmu Pendidikan Dalam Persepektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya


[1]. Dudung Abdurrahman, dkk, Sejarah Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: Jurusan SPI Fak. Adab UIN Sunan Kalijaga dan LESFI, 2002, hlm. 117
[2] .  ibid., hlm 119
[3]. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 49

[4].http://www.scribd.com/doc/17392541/pendidikan-Islam-Pada-Masa-Bani-Abbasiyah. Diunduh tanggal 15 Maret 20012

[5]. Mahrus As’ad, Sejarah Kebudayaan Islam, Bandung: CV Amirco, 1994, hlm. 25-26
[6]. Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam,  Jakarta: PT. Raja Grafika Persada, 2004,  hlm. 32-42
[7]. Ahmad Tafsir,  Ilmu Pendidikan dalam Persepektif islam, Bandung: Remaja Rosdakarya 2000, hlm. 60

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

semangat....!!!